Jangan Kau Merampas Hak Prerogatif
Tuhan
Banyak sekali peristiwa yang saya alami
selama satu-dua tahun ini, banyak pula peristiwa yang menyita perhatian saya,
yang membuat lelah fikiran, lelah perasaan, membuat depresi, frustasi, dan hampir
membuat saya gila. Dapat saya katakan bahwa tahun 2016-2017 ini menjadi
tahun-tahun yang sangat krusial dan penuh dengan drama yang bisa jadi peristiwa
dalam tahun 2016-2017 ini menjadi tahun yang sangat “berkesan” dalam sejarah
hidup saya ini.
Dari beberapa peristiwa yang saya alami ada
beberapa point yang membuat saya kembali pada kehidupan normal saya meskipun
tidak sepenuhnya normal, yang pertama “masalah
saya ada pada orang lain dan masalah orang lain ada pada saya” dan “jika saya
ingin menyelesaikan masalah saya, saya juga harus turut andil dalam
menyelesaikan permasalahan orang lain” dalam hal ini bukan berarti meninggalkan
permasalahan yang terjadi pada diri sendiri, namun ketika saya membantu
menyelesaikan permasalahan orang lain saya mempunyai keyakinan bahwa tuhan juga
akan membantu saya dalam menyelesaikan permasalahan saya melalui orang lain,
yang saya butuhkan adalah kesabaran yang ekstra tinggi dalam menghadapi segala
macam permasalahan, baik itu permasalahan yang ada dalam diri sendiri maupun
yang ada pada orang lain yang ada dalam lingkaran saya.
Yang kedua adalah “libatkan tuhan dalam
setiap permasalahan yang dihadapi” saya mempunyai pandangan bahwa permaslahan
yang saya hadapi ini adalah ujian dari tuhan dan untuk menyelsaikan masalah
yang saya hadapi saya juga harus melibatkan tuhan didalamnya, yang pada
hakekatnya tuhan tidak butuh untuk berada dala permasalahan saya namun saya
yang membutuhkan tuhan untuk berada dalam permasalahan saya, karena sesunguhnya
cobaan/ masalah yang datang merupakan cara tuhan mentuk menguji seberapa baik
saya mengenal tuhan saya.
Yang ketiga “jangan menyalahkan takdir”
dalam hal ini saya tidak boleh berfikiran bahwa kegagalan yang saya hadapi
merupakan takdir dari tuhan namun saya harus berfikir bahwa kegagalan yang
terjadi karena usaha saya yang kurang maksimal, karena tuhan tidak pernah salah
dalam menentukan semua hal, termasuk apa yang sedang terjadi pada saya saat
ini, kebenaran adalah hal mutlak yang dimiliki tuhan dan ada pada tuhan
seutuhnya karena apa yang sudah ditentukan tuhan pada diri saya merupakan hal
terbaik yang diberikan tuhan terhadap saya.
Dan hal terakhir yang sering saya fikirkan
adalah “jangan merampas hak prerogatif tuhan” yang satu ini berkaitan dengan
keimanan saya, yang mana ini berdasarkan apa yang pernah saya alami sendiri
yakni keimanan saya dihakimi oleh sesama manusia, disini saya kurang sepakat
jika manusia satu harus menghakimi manusia lain karena keimanannya, karena
siapa yang tahu taraf keimanan dari seorang manusia kepada tuhannya? apakah
dengan sering datang ke tempat ibadah harus dikatakan memiliki keimanan yang
baik dari orang yang tidak pernah datang atau jarang berada dalam tempat
ibadah? Atau orang yang mendapat gelar dari agama yang dianut dapat dikatakan
memiliki keimanan yang baik? Menurut saya tidak karena saya mempunyai pandangan
bahwa tuhanlah yang berhak menilai keimanan seseorang, bukan manusia itu sendiri, karena tuhan maha tahu maha mengerti apa yang
ada dalam hati manusia itu.
Initnya adalah masalah di dunia ini akan
selalu ada selagi manusia itu hidup di dunia, dan masalah datang untuk
diselesaikan bukan untuk dilewatkan, masalah akan datang silih berganti dalam
kehidupan ini sampai akhirnya tuhan berkata bahwa waktumu telah habis di dunia
ini.
No comments:
Post a Comment