Sunday, May 7, 2017

Jangan Kau Merampas Hak Prerogatif Tuhan



Jangan Kau Merampas Hak Prerogatif Tuhan
Banyak sekali peristiwa yang saya alami selama satu-dua tahun ini, banyak pula peristiwa yang menyita perhatian saya, yang membuat lelah fikiran, lelah perasaan, membuat depresi, frustasi, dan hampir membuat saya gila. Dapat saya katakan bahwa tahun 2016-2017 ini menjadi tahun-tahun yang sangat krusial dan penuh dengan drama yang bisa jadi peristiwa dalam tahun 2016-2017 ini menjadi tahun yang sangat “berkesan” dalam sejarah hidup saya ini.
Dari beberapa peristiwa yang saya alami ada beberapa point yang membuat saya kembali pada kehidupan normal saya meskipun tidak sepenuhnya normal, yang pertama  “masalah saya ada pada orang lain dan masalah orang lain ada pada saya” dan “jika saya ingin menyelesaikan masalah saya, saya juga harus turut andil dalam menyelesaikan permasalahan orang lain” dalam hal ini bukan berarti meninggalkan permasalahan yang terjadi pada diri sendiri, namun ketika saya membantu menyelesaikan permasalahan orang lain saya mempunyai keyakinan bahwa tuhan juga akan membantu saya dalam menyelesaikan permasalahan saya melalui orang lain, yang saya butuhkan adalah kesabaran yang ekstra tinggi dalam menghadapi segala macam permasalahan, baik itu permasalahan yang ada dalam diri sendiri maupun yang ada pada orang lain yang ada dalam lingkaran saya.
Yang kedua adalah “libatkan tuhan dalam setiap permasalahan yang dihadapi” saya mempunyai pandangan bahwa permaslahan yang saya hadapi ini adalah ujian dari tuhan dan untuk menyelsaikan masalah yang saya hadapi saya juga harus melibatkan tuhan didalamnya, yang pada hakekatnya tuhan tidak butuh untuk berada dala permasalahan saya namun saya yang membutuhkan tuhan untuk berada dalam permasalahan saya, karena sesunguhnya cobaan/ masalah yang datang merupakan cara tuhan mentuk menguji seberapa baik saya mengenal tuhan saya.
Yang ketiga “jangan menyalahkan takdir” dalam hal ini saya tidak boleh berfikiran bahwa kegagalan yang saya hadapi merupakan takdir dari tuhan namun saya harus berfikir bahwa kegagalan yang terjadi karena usaha saya yang kurang maksimal, karena tuhan tidak pernah salah dalam menentukan semua hal, termasuk apa yang sedang terjadi pada saya saat ini, kebenaran adalah hal mutlak yang dimiliki tuhan dan ada pada tuhan seutuhnya karena apa yang sudah ditentukan tuhan pada diri saya merupakan hal terbaik yang diberikan tuhan terhadap saya.
Dan hal terakhir yang sering saya fikirkan adalah “jangan merampas hak prerogatif tuhan” yang satu ini berkaitan dengan keimanan saya, yang mana ini berdasarkan apa yang pernah saya alami sendiri yakni keimanan saya dihakimi oleh sesama manusia, disini saya kurang sepakat jika manusia satu harus menghakimi manusia lain karena keimanannya, karena siapa yang tahu taraf keimanan dari seorang manusia kepada tuhannya? apakah dengan sering datang ke tempat ibadah harus dikatakan memiliki keimanan yang baik dari orang yang tidak pernah datang atau jarang berada dalam tempat ibadah? Atau orang yang mendapat gelar dari agama yang dianut dapat dikatakan memiliki keimanan yang baik? Menurut saya tidak karena saya mempunyai pandangan bahwa tuhanlah yang berhak menilai keimanan seseorang, bukan manusia itu sendiri,  karena tuhan maha tahu maha mengerti apa yang ada dalam hati manusia itu.
Initnya adalah masalah di dunia ini akan selalu ada selagi manusia itu hidup di dunia, dan masalah datang untuk diselesaikan bukan untuk dilewatkan, masalah akan datang silih berganti dalam kehidupan ini sampai akhirnya tuhan berkata bahwa waktumu telah habis di dunia ini.

No comments:

Post a Comment